Antara Wahabi dan Salafi (Bagian I)

Di Saudi Arabia tidak ada peringatan maulid Nabi, dan memang tidak diperbolehkan oleh pemerintah kerajaan Saudi Arabia (Walaupun segelintir masyarakatnya tetap melakukannya). Mereka menganut satu paham yang secara populer disebut Wahabi, tetapi mereka sendiri menyebutnya sebagai paham salaf. Kata salaf merujuk kepada tiga generasi paling awal Islam. Hal ini dilandasi ke sebuah hadis Nabi yang memberikan apresiatif tinggi pada tiga generasi awal dalam sejarah Islam tersebut, Nabi berkata: “Sebaiknya-baiknya generasi adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya dan kemudian generasi berikutnya” (H.R: Bukhari).

Sedangkan disebut Wahabi karena pemahaman tersebut dipimpin dan dirintis oleh seorang yang bernama Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab. Tentu saja mereka sendiri (orang-orang Arab itu) tidak suka disebut Wahabi. Bahkan penyebutan demikian bagi mereka merupakan suatu ejekan yang menyakitkan. Oleh karena itu hampir semua buku yang dikarang untuk melawan gerakan ini diberi judul dengan wahabi, sebagai contoh buku yang dikarang oleh Sulaiman ibn ‘Abd al-Wahhab (adik kandung Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab) yang berjudul al-shawa’iq al-ilahiyyah fi radd al-wahabiyyah (halilintar ilahi dalam menolak gerakan wahabi) merupakan representatif dari yang telah kita katakan tadi. Sama dengan orang Islam tidak suka penyebutan mohammadenism yang diberikan oleh orang Barat. 
Aliran salaf secara geneologis berasal dari Ahmad ibn Hanbal yang kemudian dikembangkan oleh Ibn Taimiyyah, dan dari Ibn Taimiyyah kemudian merambah ke Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab, seorang tokoh ulama dari Nejd yang berkoalisi dengan keluarga amir dari Riyadh, yaitu ‘Abd al-‘Aziz al-Su‘ud. Koalisi itulah yang kemudian menghasilkan negara Kerajaan Saudi Arabia (al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-su‘udiyyah) seperti yang kita kenal sekarang ini. 
Dibalik ide tentang Saudi Arabia ada satu paham yang sangat penting untuk diperhatikan, yaitu paham Wahabi yang dampaknya sangat besar dan merambah ke mana-mana. Dampak yang sangat terasa di Indonesia ialah lahirnya gerakan-gerakan pembaharuan seperti yang dirintis oleh Haji Miskin di Padang. Dari Padang menyebar lagi ke Jawa dengan mengambil bermacam-macam model gerakan. Muhammadiyah, persis, al-Irsyad, dan lain-lain. Sebetulnya sedikit banyak merupakan kelanjutan dari paham tersebut. Ciri paham Wahabi yang paling mudah terbaca ialah, sementara seluruh dunia Islam penuh dengan bangunan-bangunan kuburan yang sangat megah, di Saudi Arabia justru tidak ada sama sekali, karena semua kuburan diratakan dengan tanah kecuali kuburan Nabi Muhammad Saw. 
Semula, kuburan Nabi juga mau diratakan dengan tanah, tetapi waktu itu Kerajaan Turki ‘Utsmani yang masih sangat kuat (secara militer) mengancam bahwa kalau sampai hal itu terjadi, maka Saudi Arabia akan diserbu oleh seluruh dunia Islam. Berkat ancaman Turki ‘Utsmani itu, maka kuburan Nabi selamat dan sampai sekarang masih bisa kita saksikan dengan kubah hijaunya yang anggun sehingga disebut dengan kubat al-Khadhra’ yang merupakan warisan dari Turki. Perlu juga diketahui pula bahwa masjid Madinah bagian lama itu semuanya adalah bangunan orang Turki. Itulah sebabnya Turki memiliki sentimen yang sangat kuat untuk mempertahankan masjid Madinah, termasuk kuburan Nabi. Karena itu, Saudi Arabia dengan gerakan Wahabinya yang radikal itu pun tidak berhasil meruntuhkan kuburan Nabi. Padahal dalam pandangan orang-orang Wahabi, kuburan Nabi sama saja dengan kuburan yang lain.
Jika kita kembali pada pandangan bahwa Nabi adalah manusia biasa dan al-Qur’an penuh dengan peringatan hal itu (lihat misalnya Q. S: 3/144 dan 18/110). Keyakinan Nabi sebagai manusia biasa inilah yang dihidupkan kembali dengan sangat fanatik oleh mazhab Wahabi. Oleh karena itu, semua bangunan kuburan yang menunjukkan gejala akan disembah oleh masyarakat muslim saat itu dihancurkan menjadi rata dengan tanah oleh orang-orang Wahabi. Gerakan Wahabi itu dulu menghancurkan semua kuburan yang cenderung disembah orang Islam. Kalau sekarang kita melihat makam Nabi Muhammad itu masih elaborated sekali, hal itu sebetulnya berkat ancaman keras dari Turki sebagaimana dijelaskan di atas. Tapi sebagai solusinya sekarang ini makam Nabi dikamuflase, artinya kita tidak tahu persis di mana kuburan Nabi yang terletak di tempat yang sama dengan dua kuburan sahabatnya (Abu Bakar dan ‘Umar ibn al-Khatthab). Selain dikamuflase, bangunan makam Nabi juga dijaga keras oleh hansip, yang selalu siap mencegah dan bahkan memukul siapa-siapa yang mencoba untuk “menyembah”. 
Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya, semoga tulisan ini mampu memberikan kita rasa bijak dalam menilai suatu gerakan dakwah. Kepada Allah penulis berserah diri, kepada-Nya dipersembahkan bakti dan kepada-Nya pula penulis memohon ampunan, tawfiq, hidayah dan perlindungan. Wallahu ’a‘lam bi al-haqiqah wa shawab.

Komentar