Antara Wahabi dan Salafi (Bagian II)

Dari catatan sejarah, Ibn Taimiyyah tidak berhasil menciptakan suatu gerakan besar pada masanya, karena menghadapi arus pemikiran yang 180 derajat yang berlawanan dengan pemikirinnya. Tetapi dinamika ide-idenya justru berlanjut terus mempengaruhi sejarah khazanah intelektual Islam. Di zaman modern ini, perjuangan Ibn Taimiyyah melepaskan diri dari otoritas tradisi, tersimpulkan pada seruannya untuk membuka kembali pintu ijtihad dan kritik-kritik pedasnya kepada hampir semua sistem pemahaman keagamaan yang mapan, telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak pandangan liberal berbagai gerakan Islam modernis. Tetapi, pada saat yang sama, tekanan Ibn Taimiyyah kepada pemahaman harfiah literalis terhadap sumber-sumber agama telah menjadi bahan rujukan bagi berbagai kecenderungan literalis, fundamentalis dan radikalitas pada banyak kalangan aktivis Muslim tertentu pada zaman mutakhir.
Barangkali seruannya untuk kembali mencontoh golongan salaf (generasi awal Islam) merupakan sumber kontroversi awal dengan pemikiran-pemikiran Islam lainya. Namun salafisme itu sendiri tidak lepas dari adanya berbagai macam penafsiran, bahkan Muhammad Sa‘id Ramadhan al-Buythi menganggap salafisme itu sebenarnya tidak patut dikategorikan sebagai suatu aliran pemikiran Islam, ia hanya suatu masa kegemilangan dalam sejarah Islam yang panjang (al-salafiyyah marhalah zamaniyyah mubarakah la mazhab islami). Sebuah tesis dari Universitas al-Azhar Kairo di Mesir mencoba membuktikan bahwa Ibn Taimiyyah, dalam analisanya, sama sekali bukanlah seorang penganut salafisme!. Ini menunjukkan bahwa sejak semula, dan tampaknya akan begitu seterusnya, salafisme tidak akan pernah bisa dimonopoli oleh suatu gerakan Islam yang mana pun, termasuk gerakan pemurnian menurut contoh Ibn Taimiyyah. Bagi mereka yang dari sudut pandangan tertentu Ibn Taimiyyah akan disebut sebagai ahl al-bid‘ah (pelaku bid‘ah) juga banyak yang menggunakan jargon salafisme itu, sebagaimana tercermin pada nama beberapa pesantren tradisional di Aceh (dayah salafiyah, tradisional) . Jadi sebenarnya jargon salafi itu tidak hanya menjadi monopoli kaum “wahabi salafi” tetapi juga terkadang jargon itu diklaim milik “aswaja salafi”, walaupun diantara dua kelompok itu memiliki pemahaman yang berbeda mengenai orientasi makna salafisme.
Bagi kelompok “wahabi salafi” tentu yang dimaksudkan dengan salafisme itu adalah meneladani generasi awal Islam di dalam menghadapi kehidupan dunia maupun ukhrawi. Akan tetapi sikap mereka yang anti mazhab dan menarik semua problematika hidup suatu masa untuk diselesaikan sesuai dengan masa awal Islam menimbulkan gejolak penolakan keras dari kelompok penentangnya. Tentu ini bertolak belakang dengan pemahaman salafisme versi “aswaja salafi” yang memaknai salafisme itu sendiri sebagai world view (cara pandang) dalam memahami Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para imam mazhab yang kebanyakan hidup setelah genarasi awal Islam, dan mengangap apa yang dilakukan umat tidak harus meniru mentah-mentah apa yang dilakukan oleh generasi Islam awal, asalkan tidak keluar dari prinsip-prinsip yang telah digariskan dalam al-Qur’an dan Sunnah. Perbedaan sudut pandang dalam memahami salafisme ini lah yang sering memunculkan benturan antara dua kelompok yang mengklaim diri paling salafiisme ini.
Hanya sedikit dari kalangan kaum Muslimin, termasuk mereka yang mengaku sebagai penerus ide-ide Ibn Taimiyyah, benar-benar mampu menunjukkan tingkat apresiasi yang memadai kepada aspek intelektualitasme pemikir besar itu. Seperti biasa, tangkapan yang kurang cerdas kepada pikiran-pikiran Ibn Taimiyyah mengesankan seolah-olah pemikir itu berhenti hanya kepada aspek-aspek lahiriah kehidupan keagamaan saja, seperti dapat dilihat pada pengertian populer tentang seruannya melawan bid‘ah. Segi-segi positif pemikiran Ibn Taimiyyah, yaitu konsep alternatif yang ia yakini kebenarannya dan ditawarkan kepada umat untuk dikembangkan, membentuk suatu sistem pemikiran tersendiri yang tidak kurang rumitnya. Aspek terakhir ini masih sedikit dipelajari secara sistematis dan ilmiah. Seperti halnnya teori kebenaran yang dianut oleh ibn Taimiyyah yang menggatakan al-haqiqah fi al-a‘yan la fi al-azhan (kebenaran itu bersifat empiris dan tidak sebatas spekulatif semata).
Kekeliruan dalam memahami pemikiran ini lah yang menyebabkan tokoh besar ini tersudutkan baik oleh kawan maupun lawannya. Kawan Ibn Taimiyyah menganggap beliau hanya fokus dalam pemurnian tawhid dan memberantas syirik, khurafat dan bid‘ah. Sedangkan lawannya menganggap beliau telah tersesat dengan pemahaman anthropomorphisme (mujassamah, mempersamakan Tuhan dengan makhluk).
Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya, kepada Allah penulis berserah diri, kepada-Nya dipersembahkan bakti dan kepada-Nya pula penulis memohon ampunan, tawfiq, hidayah dan perlindungan. Wallahu ’a‘lam bi al-haqiqah wa al-shawab.

Komentar