Antara Wahabi dan Salafi (Bagian III)


Dorongan untuk melakukan pembaharuan pemikiran dalam dunia Islam di zaman modern ini sebetulnya banyak mendapat inspirasi dari Ibn Taimiyyah, seorang tokoh yang mempunyai wawasan kesejarahan yang cukup unik di antara para pemikir Islam lainnya, tetapi dengan kecenderungan literalisme yang agak eksesif, yaitu suatu pemahaman tekstualis dan sangat harfiah kepada sumber-sumber suci (al-Qur’an dan hadis) yang agak berlebihan, dan kemudian mengahasilkan suatu gejala seperti yang terjadi di Saudi Arabia, suatu negeri yang secara formal mengikuti mazhab hanbali versi Ibn Taimiyyah dalam tafsiran Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab (sehingga mereka disebut wahabi). Semua diskursus mengenai Islam kontemporer mengatakan bahwa Saudi Arabia adalah negeri dengan tipe Islam yang paling konservatif, tetapi pada waktu yang bersamaan mereka juga yang paling dekat dengan Barat, entah karena masalah minyak (baca: ekonomi), ataupun karena motif lainnya. Kelebihan gerakan wahabi – meskipun dengan cara-cara yang terkadang tidak elegan (seperti suka membid‘ahkan local wisdom) – ialah membebaskan diri dari unsur-unsur mitologis dalam pemahaman Islam populer. Karena itu, di Saudi Arabia sama sekali tidak ada benda suci, kecuali yang formal diakui oleh agama sendiri, seperti ka‘bah dan hahar al-aswad. Demikianlah kecenderungan keberagamaan yang lahir dari sudut  pandang Ibn Taimiyyah.

Sudut pandang yang lain adalah Ibn ‘Arabi, yang dalam tulisan ini penulis hadap-hadapkan dengan Ibn Taimiyyah yang merepresentatifkan sudut pandang wahabi (baca: salafi wahabi) dalam satu pihak; sedangkan Ibn ‘Arabi dalam pihak lain sebagai representatif dari salafi (baca: sufi salafi/dayah salafi dalam konteks keacehan). Ibn ‘Arabi memiliki kecenderungan yang luar biasa kepada tafsiran-tafsiran metaforis spiritual terhadap sumber-sumber suci. Beliau sama sekali tidak berpegang pada bunyi-bunyi harfiah, dan karena itu menghasilkan suatu pemikiran yang langsung berseberangan secara diametral dengan pemikiran Ibn Taimiyyah. Maka, para pengikut Ibn Taimiyyah di Saudi Arabia sekarang menjadikan Ibn al-‘Arabi sebagai salah satu sasaran kritiknya, karena dianggap banyak melakukan perbuatan bid‘ah, sesat, dan bayak melakukan interpretasi yang sangat jauh, yaitu interpretasi metaforis spiritual.
Itulah sebabnya mengapa kemudian Ibn al-‘Arabi mucul di kalangan tedensi-tedensi baru Islam yang tidak puas dengan tafsiran literal kepada agama dan mengiginkan tafsiran yang lebih dinamik dan spiritual. Tendensi tersebut muncul terutama di kalangan orang Muslim yang bedomisili di Barat, bahkan orang-orang Islam yang pindah ke Barat, entak itu orang India, Arab, Melayu dan lain-lain. tetapi ada gejala baru, yaitu bahwa orang Barat yang menjadi Islam itu umumnya cenderung ke arah Ibn al-‘Arabi. Di Barat, misalnya, kini sudah ada lembaga seperti “Ibn Arabi Society” . tentu kecenderungan ini sangat bagus, karena berarti orang-orang Muslim Barat sekarang ini sudah mulai ambil bagian dalam perkembangan agama Islam. Tokoh-tokohnya antara lain Fritjhof Schoun, yang nama Islamnya Muhammad Isa Nuruddin dan Martin Ling yang nama Islamnya Sirajudin Abu Bakar.
Harus diakui, pemikiran Ibn al-‘Arabi sering dianggap liar, termasuk di dalam diskursus akademik Barat sendiri. Dia banyak menyampaikan gagasan dalam kalimat-kalimat yang hanya dapat diapahami oleh lingkungannya sendiri, sehingga untuk menerangkannya secara menyeluruh dalam format yang sederhana dan simpel, agak sedikit mustahil dapat dilakukan. Bahasa Arabnya adalah bahasa Arab yang sarat dengan simbol. Karena itu, kalau orang tidak tahu pikiran menyeluruh dari Ibn al-‘Arabi, boleh jadi dia akan salah memahami pemikiran-pemikiran Ibn al-‘Arabi.

Komentar