Godaan Untuk Berputus Asa

Godaan untuk mempunyai perasaan putus asa memang ada pada setiap orang. Bahkan, Nabi Muhammad Saw sendiri pernah mengalami hal semacam itu. Dia merasa ditinggalkan oleh Tuhan, dan merasa bahwa Tuhan tidak peduli lagi terhadapnya. Ia kemudian ditegur oleh Allah, yaitu melalui turunnya surat al-Dhuha, “Demi cahaya pagi yang gemilang. Dan demi malam bila sedang hening. Tuhanmu tidak membencimu. Dan sungguh, yang kemudian akan lebih baik bagimu dari pada yang sekarang” (Q. S: 93/1-4).

Mungkin ketika itu Nabi merasa gagal, merasa kurang berhasil, sehingga timbul pikiran bahwa Tuhan telah meninggalkannya. Oleh karena itu, Nabi diperingatkan oleh Allah agar tidak terlalu terpukau dan terpaku dengan kegagalannya, sebab masa yang akan datang lebih penting dan Tuhan pasti akan memberikan suatu kesenangan.
Kalau ditimpa suatu kemalangan, jangan sampai kita kehilangan harapan kepada Allah. Sebab orang yang beriman adalah orang yang apabila ditimpa kemalangan dia tidak menerimanya hanya sebagai bagian dari nasibnya sendiri, tetapi dia sanggup untuk melihatnya sebagai sesuatu yang biasa terjadi pada orang lain, kalau kita menderita, kemudian mengatakan mengapa kita yang menderita, mengapa bukan orang lain, ini secara moral sulit dipertanggungjawabkan. Ini berarti kita mau hanya orang lain yang menderita. Dan secara moral, tentu ini salah.
Perbedaan antara kita sebagai orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman ialah bahwa dalam keadaan apa pun kita hendaknya berharap kepada Tuhan. Sebab harapan, sekali lagi, adalah bagian dari iman. Harapan kepada Allah kita transfer ke dalam diri dengan penghayatan kepada Allah melalui kualitas-kualitas seperti yang tercantum dalam al-asma’ al-husna. Itulah makna dari firman Allah Swt, “Allah mempunyai nama-nama yang indah, maka mohonlah denga itu”. (Q. S: 7/180), yang terkait erat dengan hadis Qudsi, “dan tirulah akhlak Tuhan”. 
Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya, semoga tulisan ini mengantarkan kita menjadi pribadi yang tidak pernah berputus asa dari rahmat dan hidayah-Nya. Kepada Allah penulis berserah diri, kepada-Nya dipersembahkan bakti dan kepada-Nya pula penulis memohon ampunan, tawfiq, hidayah dan perlindungan. Wallahu ’a‘lam bi al-haqiqah wa al-shawab.

Komentar