Dimensi Ibadah Shalat


Ibadah-ibadah dalam Islam selalu mempunyai dua dimensi, vertikal dan horizontal. Dimensi vertikal sifatnya sangat pribadi  dan interpersonal, sehingga tidak dapat dijangkau oleh orang lain sehingga di situlah letak takwa, ikhlas dan sebagainya. Sedang dimensi horizontal bersifat sosial, menyangkut orang lain.  contoh yang paling dekat adalah shalat yang dimulai dengan ucapan takbir, Allahu Akbar, suatu peryataan untuk membuka komunikasi dengan Allah. Inilah dimensi vertikal yang bersifat pribadi dan personal, karena takbir merupakan simbolisasi dari keimanan kita, yang tidak mungkin diukur dari luar. Karena itu, Nabi menegaskan bahwa “Sesungguhnya Allah tidak melihat jasmanimu (penampilan luarmu) akan tetapi melihat batinmu”. Namun, penegasan ini tidak boleh dipahami secara simplistik untuk kemudian mengabaikan yang lahiriyah, karena Nabi juga menegaskan bahwa “Yang lahir itu menunjukkan yang batin”. Jadi, keduanya selalu ada korelasi.
Akhir dari shalat adalah salam, mengucapkan assalamu ‘alikum  yang merupakan doa untuk keselematan orang lain. melihat ke kanan dan ke kiri, meskipun sunnah, sebenarnya merupakan simbolisasi bahwa selain berhubungan dengan Allah, kita juga harus berhubungan dengan sesama manusia. Inilah aspek sosial dari ibadah shalat. Jadi, antara takbir dengan salam tidak dapat dipisahkan, seperti juga adanya perjodohan dualitas antara iman dan amal saleh, takwa dan budi pekerti luhur sebagaimana yang banyak terekam di dalam al-Qur’an dan hadis Nabi. Ada sebuah hadis sahih yang menyebutkan bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga adalah takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur.
Dalam al-Qur’an ada gambaran metaforis mengenai apa yang akan terjadi di akhirat ketika orang yang di surga merasa kaget kerana temannya masuk neraka, “Apakah yang membawa kamu ke dalam api neraka?, mereka berkata, kami tak temasuk golongan orang yang shalat. Juga tidak memberi makan orang miskin” (Q. S: 74/42-44).
Dari keterangan di atas bisa disimpulkan bahwa yang menyebabkan orang masuk neraka adalah, pertama, tidak pernah mengucapkan Allahu Akbar, dan kedua,  tidak pernah mengucapkan assalamu ‘alaikum, yang berarti tidak pernah melihat ke kanan dan ke kiri. Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian tingkat kualitas yang tinggi dalam ibadah tidak cukup dengan formalitas semata, melainkan harus menangkap makna di balik setiap ibadah. Kita tidak boleh puas dengan kesalehan formal, karena batin lebih primer dibandingkan lahir. Karena itu, khusyuk menjadi instrumen yang sangat penting.
Ketika shalat, setelah bertakbir Nabi membaca “Inni wajjahtu wajhiya li al-ladzi fathara al-samawat  wa al-ardh hanifan wa ma ana minal musyrikin, inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa ma mati lillahi rabil ‘alamin la syarikalahu wa bi zalika umirtu wa ana minal muslimin” (sesungguhnya saya menghadapkan wajahku kepada sang Maha Pencipta langit dan bumi dan aku bukan golongan dari yang mempersekutukan Tuhan, sesunggguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk sang Maha Pencipta semesta alam, aku tidak akan pernah menyekutukan-Nya dan itulah yang diperintahkan untukku dan saya termasuk orang yang tunduk kepada Tuhanku). Doa ini pada hakikatnya menyatakan manusia itu memiliki bakat berbuat baik. Maka hadapkanlah diri kepada Allah penuh pasrah kepada-Nya tanpa menyimpangkan tujuan hidup kepada selain-Nya, merupakan kelanjutan dari apa yang sudah ada dalam diri manusia. Allah kemudian diposisikan sebagai sangkan paran, asal dan tujuan hidup. Inilah ide yang terkandung dalam kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (kita berasal dari Allah dan kita akan kembali kepada-Nya).
Khusyuk adalah aspek terpenting dalam ibadah, terlepas dari pembahasan kitab-kitab fiqh yang lebih menekankan sah tidaknya shalat dari aspek lahir, seperti wudhu’, kebersihan badan, pakaian, tempat dan sebagainya. Khusyuk merupakan hal yang sangat prinsipil dan menjadi tujuan dari shalat itu sendiri, dari pemahanan ini lah khususnya dalam tradisi fiqh Maliki khyusu’ dikategorikan ke dalam rukun shalat. Apalah gunanya shalat kalau tidak khusyuk kepada Allah; “Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Q. S: 20/14). Inilah tujuan instrinsik dari shalat. Sedangkan tujuan yang dilambangkan dalam salam di akhir shalat boleh disebut sebagai tujuan akibat, yakni konsekuensi orang yang berhubungan baik dengan Allah adalah berhubungan baik pula dengan sesama manusia yang terjawantahkan dalam akhlaq al-karimah.
Bacaan  dalam ruku’ dan sujud adalah masalah khilafiyyah, atau perbedaan pendapat kecil yang tidak perlu dirisaukan. Sebab akhirnya bacaan itu sama saja, karena yang penting adalah bagaimana menghayatinya dalam hati. Yang wajib dalam shalat adalah takbir  yang pertama (takbiratul ihram), membaca surat al-fatihah, lalu tahiyah yang merupakan greeting (sambutan), bahwa semua tegur sapa yang baik adalah untuk Allah. Seolah kita menegur sapa kepada Tuhan, kemudian menegur sapa kepada sesama manusia dan kemudian menegur sapa semua manusia yang saleh. Kemudian syahadat, shalawat, dan salam adalah juga wajib.
Salam pada akhir shalat seolah merupakan pengertian kepada kita agar shalat menghasilkan suatu yang bersifat amal saleh. Mengucapkan assalamu’alaikum adalah doa untuk sesama manusia supaya semuanya sejahtera dan bahagia. Hal ini diperkuat dengan dengan anjuran supaya melihat ke kanan dan ke kiri yang merupakan simbolisasi, perlambangan dari keharusan kita untuk menengok atau memerhatikan masyarakat kanan-kiri kita. Maka dalam shalat seolah kita menghadap Tuhan dengan Allahu Akbar yang “mati dalam hidup”, yang vertikal, dan ketika selesai meminta izin pada Tuhan untuk kembali kepada pekerjaan kita. Seolah Tuhan mengizinkan dan berpesan “ucapkan salam terlebih dahulu, nyatakan bahwa kamu punya perhatian kepada sesama manusia dan lihat kanan-kirimu”. Itulah amal saleh. Jadi Allahu Akbar adalah hablun minallah (hubungan vertikal manusia dengan Tuhan) dan assalamu ‘alaikum adalah hablun minannas (hubungan horizontal manusia dengan sesama manusia). Allahu Akbar harus kita hayati setinggi-tingginya, yaitu sampai kepada takwa, ridha dan sebagainya. Dan assalamu ‘alaikum  juga kita hayati setinggi-tingginya sampai kepada menegakkan keadilan, menciptakan pemerintahan yang baik dan sebagainya.
Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya, kepada Allah penulis berserah diri, kepada-Nya dipersembahkan bakti dan kepada-Nya pula penulis memohon ampunan, tawfiq, hidayah dan perlindungan. Wallahu ’a‘lam bi al-haqiqah wa al-shawab.

Komentar